Rabu, 24 April 2013

Valuasi Ekonomi Rimbo Panti oleh Suratni Afrianti

NILAI EKONOMI TAMAN WISATA ALAM RIMBO PANTI
( Valuasi Ekonomi Rimbo Panti )


I.         PENDAHULUAN

1.1.      LATAR BELAKANG
          Taman wisata Alam Rimbo Panti yang ada di Sumatera Barat Merupakan Salah Satu Kawasan Lindung yang Harus dilestarikan dan upaya yang dilakukan untuk melestarikan Taman Wisata Tersebut adalah dengan adanya kajian nilai ekonomi dan hasil kajian ini bisa menjadi kekuatan dari berbagai stake holder untuk salah satu landasan kenapa sumber daya alam wisata alam rimbo panti harus dilindungi.
Potensi sumber daya alam Indonesia sangat berlimpah, wilayah hutan tropis Indonesia terluas ketiga di dunia dengan cadangan minyak, gas alam, emas, tembaga dan mineral lainnya. Indonesia memiliki tanah dan area lautan yang luas, dan kaya dengan berjenis-jenis ekologi. Walaupun demikian persoalan tentang pengelolaan sumber daya alam hanya mendapat perhatian sedikit dari para pengambil kebijakan.
Walaupun kekayaan sumber daya alam Indonesia begitu berlimpah bukan berarti
pengelolaan dari sumberdaya alam itu harus terabaikan. Justru pengelolaan sumber daya
alam yang dilakukan secara terus menerus sebagai usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat tentu harus memperhatikan lingkungan, karena pengelolaan alam yang hanya berorientasi  ekonomi  hanya akan membawa efek positif secara ekonomi tetapi menimbulkan efek negatif bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu  pengelolaan sumber daya alam perlu memperhatikan kelestarian lingkungan dengan bertanggung jawab (Yoeti, 2000). 
Dengan keberagaman kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia, tentunya hal ini menjadi pertimbangan bagi pemerintah  untuk membangun industri pariwisata yang nantinya mampu memberikan kontribusi secara multidimensi bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya.


Kepariwisataan itu penting disebabkan oleh  beberapa faktor diantaranya  yaitu :
1.     Berkurangnya penerimaan devisa dari ekspor minyak dibandingkan waktu sebelumnya.
2.    Prospek pariwisata yang tetap memperlihatkan kecenderungan meningkat dari waktu-kewaktu.
3.    Besarnya potensi wisata yang dimiliki bagi pengembangan pariwisata di Indonesia .

Pariwisata di Indonesia telah dianggap sebagai salah satu sektor ekonomi penting. Bahkan sektor ini diharapkan akan menjadi penghasil devisa nomor satu. Di samping menjadi mesin penggerak ekonomi, pariwisata juga merupakan wahana yang menarik untuk mengurangi angka pengangguran mengingat barbagai jenis wisata dapat ditempatkan dimana saja. Oleh sebab itu pembangunan wisata dapat dilakukan di daerah yang pengaruh penciptaan lapangan kerja paling menguntungkan.
Wisata pada awalnya digolongkan dalam kategori industri hijau (green industry).Namun dengan besarnya pengembangan wisata yang menitik beratkan pada kepentingan ekonomi tanpa mengindahkan potensi lingkungan dan tidak memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan menimbulkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.Lingkungan di beberapa obyek wisata rusak akibat volume pengunjung dan besarnya tekanan terhadap lingkungan.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran berbagai pihak terhadap lingkungan dan isu-isu tentang pembangunan yang berwawasan lingkungan telah memberikan konstribusi terhadap pandangan pentingnya prinsip-prinsip wisata berkelanjutan.Prinsip pariwisata yang diharapkan dapat mempertahankan kualitas lingkungan, mempertahankan budaya, memberdayakan masyarakat lokal dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal, kawasan dan pemerintah.
Wisata adalah industri yang kelangsungannya sangat ditentukan oleh baik dan buruknya lingkungan.Tanpa lingkungan yang baik tidak mungkin wisata berkembang.Oleh karena itu pengembangan wisata haruslah memperhatikan terjaganya mutu lingkungan, sebab dalam industri wisata, lingkungan itulah yang sebenarya dijual.Kebijakan pembangunan pariwisata yang dikaitkan dengan upaya pengelolaan lingkungan hidup, merupakan salah satu kebutuhan panting bagi pelayanan para wisatawan, pembangunan pariwisata dan pengelolaan lingkungan hidup laksana dua sisi mata uang.Saling melengkapi dan dapat menjadi daya tarik dan pesona bagi wisatawan.
Untuk itu perlu adanya konsep pengelolaan pembangunan kawasan wisata yang berorientasi pada lingkungan dengan menerapkan model pembangunan berkelanjutan{sustainable development), pengertian pembangunan berkelanjutan ini semakin berguna dan tersebar penggunaannya setelah diterbitkannya publikasi "Our Common Future" pada tahun 1987 oleh "World Commission on Environment and Development". Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan perlu pengupayaan pemanfaatan secara optimal dan berkelanjutan (sustainable). Untuk mencapai tujuan ini, maka perlu diketahui manfaat ekonomi sumber daya alam dan lingkungan secara menyeluruh, baik manfaat ekonomi yang  tangible maupun manfaat yang  intangible. Pengertian  tangible adalah biaya atau keuntungan suatu proyek yang mempunyai nilai uang, sedangkan intangible adalah biaya atau keuntunga sesuatu proyek yang tidak dapat dihitung (dikuantifikasikan) atau dapat dikuatifikasikan tetapi sulit dinilai dengan uang, Seperti : pemandangan indah, manfaat rekreasi (C Pass, B Lowes, 1988). Kedua bentuk manfaat tersebut perlu dikelola dengan sebaik-baiknya agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Penilaian terhadap suatu kawasan wisata memiliki peranan yang dapat menentukan pengembangan dari tempat wisata itu sendiri yang mencakup berbagai faktor yang berkaitan dengan nilai sosial dan politik.Menurut Ward et.al, 2000 (dalam Rahardjo) metode penilaian khususnya untuk mengukur nilai ekonomi wisata alam yang paling banyak dipakai adalah Travel Cost Method (TCM). Metode ini menduga nilai ekonomi kawasan wisata berdasarkan penilaian yang diberikan masing-masing individu atau masyarakat terhadap kenikmatan yang tidak ternilai (dalam rupiah) dari biaya yang dikeluarkan untuk berkunjung ke sebuah objek wisata, baik itu opportunity cost maupun biaya langsung yang dikeluarkan seperti biaya transportasi, konsumsi makanan, minuman, hotel, tiket masuk dan sebagainya.

1.2.     TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur nilai ekonomi yang diperoleh pengunjung Taman Wisata Alam Rimbo Panti, Kab.Pasaman Timur Sumatera Barat dengan menggunakan metode biaya perjalanan individu (Individual Travel Cost Method). Wisata Taman Wisata Alam Rimbo Panti dipilih karena potensi wisata yang dimilikinya tergolong tinggi dan sangat.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Cagar Alam Rimbo Panti
Pulau Sumatera dikenal sebagai salah satu pusatkeanekaragaman hayati yang memiliki kawasan hutan dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang tinggi.Hutan Alam Rimbo Panti di Sumatera Barat dengan luas ± 3400 ha termasuk salah satu kawasan hutan yang memilikikeanekaragaman jenis tumbuhan dan mempunyai tipevegetasi cukup beragam.Keragaman tipe vegetasi umumnya dapat dijumpai dalam tipe ekosistem hutandataran rendah yang sebagian besar terdiri atas hutanperbukitan.Seiring dengan laju perkembangan daerah dan pertambahan penduduk maka gangguan terhadap Hutan Alam Rimbo Panti juga semakin meningkat. Pencurian kayu serta pembukaan hutan untuk areal perladangan telahmenciptakan kerusakan di beberapa tempat dan hal ini perlu mendapat perhatian demi keutuhan kawasan cagaralam. Kerusakan hutan tersebut dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan berbagai jenis satwa seperti orang Utan, kera, Harimau dan jenis-jenis burung. Berkaitan dengan hal tersebut, pengetahuan serta penelitian melalui pengungkapan data vegetasi melalui penarikan petakcuplikan pada beberapa tempat dengan ketinggian yangberbeda perlu dilakukan untuk memberi gambaran mengenai kondisi dan potensi kawasan hutan alam RimboPanti.
Cagar Alam Rimbo Panti terletak di Kabupaten Pasaman, di pinggir jalan dari Bukittinggi ke arah Medan. Rimbo Panti merupakan taman wisata dan cagar alam yang di dalamnya hidup berbagai jenis satwa seperti rusa, tapir, kambing hutan, berbagai jenis kera, berbagai jenis burung, macan tutul, harimau dan lain-lain.
Selain dihuni oleh berbagai jenis satwa terdapat juga kawah magma yang panas, dimana letupan-letupan dari magma tersebut merupakan suatu atraksi yang mengasyikkan dan mungkin sulit dijumpai di tempat-tempat lainnya.
Kegiatan yang dapat dilakukan di objek tersebut yaitu potret memotret/photo hunting, penelitian ilmiah dan rekreasi alam.
Untuk mencapai kawasan Taman Wisata Rimbo Panti dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum/pribadi (bus, colt, jeep) melalui rute sebagai berikut:
 Oplet
Bukittinggi – Lubuk Sikaping – Rimbo Panti, sekitar 130 km dan memakan waktu 3 jam perjalanan.
 Bus
Padang – Bukittinggi – Lubuk sikaping – Rimbo Panti, sekitar 229 km dan memakan waktu 6 jam perjalanan.





Gambar 1. Alam Rimbo Panti

Kawasan ini terletak pada koordinat 0º20.682’LU dan100º04.138’BT, Bagian sebelah timur jalan sebagian besar berupa hutan rawa sedangkan bagian barat merupakan hutan perbukitan dengan kondisi medan bergelombang sampai berbukit. Dalam kawasan hutanperbukitan pada beberapa tempat dijumpai medan yangagak terjal (kelerengan >30%), dengan kondisi tanah agakkering dan berkapur. Menurut informasi, hutan perbukitanini terdapat pada daerah patahan yang rawan terhadaplongsor dan erosi.Di kawasan hutan perbukitan terutamapada daerah kaki bukit (ketinggian 200-300 m. dpl.) dibeberapa tempat terlihat terbukanya lapisan kanopi akibat penebangan hutan.Pada tempat terbukanya lapisan kanopiini banyak dijumpai jenis-jenis tumbuhan sekunder sepertiOmalanthus populneus, Macaranga tanarius, Macarangadiepenhorstii, Ficus variegata dan Arenga obtusifolia.Penebangan hutan juga dijumpai pada ekosistem hutanrawa.Di beberapa tempat baik ada hutan rawa yangtergenang secara musiman maupun yang selalu tergenangsering terjadi pembukaan hutan untuk dijadikan arealperladangan.Di kawasan ini jenis Terminalia copelandii dan Pterocymbium tubulatum tampak dapat beradaptasi dengan baik. Topografi umumnya relatif datar dan ditempat-tempat tergenang ke dalaman air berkisar antara0,5-1 m.

2.2. Pariwisata
Pariwisata merupakan salah satu industri yang mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal penyediaan lapangan kerja, pendapatan, tarif hidup, dan dalam mengaktifkan sektor produksi lain di dalam negara peneri ma wisatawan.
James J. Spillane (1989) dalam Badrudin (2000) mendefi nisi kan pariwisata sebagai kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mencari kepuasan, mencari sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain.
Berikut adalah jenis-jenis pariwisata, menurut James J. Spillane (1989) dalam Badrudin (2000) yang terdapat di daerah tujuan wisata yang menarik  customer untuk mengunjunginya sehingga dapat pula diketahui jenis pariwisata yang mungkin layak untuk dikembangkan dan mengembangkan jenis sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pariwisata tersebut.
A.   Pariwisata untuk menikmati perjalanan (pleasure tourism) Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk berlibur, mencari udara segar yang baru, untuk mengendorkan ketegangan syarafnya, untuk menikmati keindahan alam, untuk menikmati hikayat rakyat suatu daerah, untuk menikmati hiburan, dan sebagainya.
B.    Pariwisata untuk rekreasi (recreation sites) Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari libur untuk istirahat, untuk memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohani, yang akan menyegarkan keletihan dan kelelahannya.
C.   Pariwisata untuk Kebudayaan (cultural tourism) Jenis pariwisata ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi seperti keinginan untuk belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, untuk mempelajari adat istiadat, cara hidup masyarakat negara lain dan sebagainya
D.   Pariwisata untuk Olahraga (sports tourism) Jenis pariwisata ini bertujuan untuk tujuan olahraga, baik hanya untuk menarik penonton olahraga dan olahragawannya sendiri serta ditujukan bagi mereka yang ingin mempraktikkannya sendiri.
E.    Pariwisata untuk urusan dagang besar (business tourism) Dalam jenis pariwisata ini, unsur yang ditekankan adalah kesempatan yang digunakan oleh pelaku perjalanan ini yang menggunakan waktu-waktu bebasnya untuk menikmati dirinya sebagai wisatawan yang mengunjungi berbagai obyek wisata dan jenis pariwisata lain.
F.    Pariwisata untuk konvensi (convention tourism) Banyak negara yang tertarik dan menggarap jenis pariwisata ini dengan banyaknya hotel atau bangunan-bangunan yang khusus dilengkapi untuk menunjang convention tourism.

2.3. VALUASI EKONOMI
Secara umum dapat didefinisikan bahwa valuasi ekonomi pada dasarnya adalah suatu upaya untuk memberikan nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan terlepas dari apakah nilai pasar  (market value) tersedia atau tidak (Susilowati, 2002). Akar dari konsep penilaian ini sebenarnya berdasarkan pada ekonomi neoklasikal  (neoclassical economic theory) yang menekankan pada kepuasan atau keperluan konsumen. Berdasarkan pemikiran neoklasikal ini dikemukakan bahwa penilaian setiap individu pada barang dan jasa tidak lain adalah selisih antara keinginan membayar (willingness to pay = WTP), dengan biaya untuk mensuplai barang dan jasa tersebut.
Surplus konsumen merupakan perbedaan antara jumlah yang dibayarkan oleh pembeli untuk suatu produk dan kesediaan untuk membayar (Samuelson dan Nordhaus, 1990).Surplus konsumen timbul karena konsumen menerima lebih dari yang dibayarkan dan bonus ini berakar pada hukum utilitas marginal yang semakin menurun.Sebab timbulnya surplus konsumen, karena konsumen membayar untuk tiap unit berdasarkan nilai unit terakhir. Surplus konsumen mencerminkan manfaat yang diperoleh karena dapat membeli semua unit barang pada tingkat harga rendah yang sama (Samuelson dan Nordhaus, 1990).
"'Total Surplus Konsumen adalah bidang di bawah kurva permintaan dan di atas
garis harga
Sumber : Djijono, 2002
Keterangan:
OREM          = Total utilitas / kemampuan membayar konsumen
ONEM         = Biaya barang bagi konsumen
NRE             = Total Nilai surplus konsumen

Total economic Value (TEV) pada dasarnya sama dengan net benefit yang diperoleh dari sumber daya alam, namun didalam konsep ini nilai yang dikonsumsi oleh seorang individu dapat dikategorikan ke dalam dua komponen utama  use value dan non-use value (Susilowati, 2002).
Komponen pertama, yaitu use value pada dasarnya diartikan sebagai nilai yang diperoleh seorang individu atas pemanfaatan langsung dari sumber daya alam dimana individu berhubungan langsung dengan sumber daya alam dan lingkungan.  Use value secara lebih rinci diklasifikasikan kembali kedalam direct  use value dan indirect use value. Direct use value merujuk pada kegunaan langsung dari konsumsi sumber daya seperti penangkapan ikan, pertanian. Sementara  indirect use value merujuk pada nilai yang dirasakan secara tidak langsung kepada masyarakat terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan. Komponen kedua, non-use value adalah nilai yang diberikan kepada sumber daya alam atas keberadaannya meskipun tidak dikonsumsi secara langsung.Non-use value lebih bersifat sulit diukur (less tangible) karena lebih didasarkan pada preferensi terhadap lingkungan ketimbang pemanfaatan langsung. Secara detail kategori  non-use value ini dibagi kedalam sub-class yaitu existence value, Bequest value dan option value. Existence value pada dasarnya adalah penilaian yang diberikan dengan terpeliharanya sumber daya alam dan lingkungan. Bequest value diartikan sebagai nilai yang diberikan oleh generasi kini dengan menyediakan atau mewariskan (bequest) sumber daya untuk generasi mendatang (mereka yang belum lahir). Sementara option value lebih diartikan sebagai nilai pemeliharaan sumber daya sehingga pilihan untuk memanfaatkan untuk masa yang akan datang tersedia. Nilai ini merujuk pada nilai barang dan jasa dari sumber daya alam yang mungkin timbul sehubungan dengan ketidakpastian permintaan di masa yang akan datang.

2.4. PENDEKATAN PERJALANAN (TRAVEL COST METHOD)
Konsep dasar dari metode travel cost adalah waktu dan pengeluaran biaya perjalanan (travel cost expenses) yang harus dibayarkan oleh para pengunjung untuk mengunjungi tempat wisata tersebut yang merupakan hatga untuk akses ke tempat wisata (Garrod dan
Willis, 1999).Itulah yang disebut dengan willingness to pay (WTP) yang diukur berdasarkanperbedaan biaya perjalanan.
Terdapat beberapa pendekatan yang digunakan untuk memecahkan permasalahan melalui metode travel cost menurut Garrod dan Willis (1999), yaitu:
1.     Pendekatan Zona Biaya Perjalanan (A simple zonal travel cost approach), menggunakan data sekunder dan pengumpulan data dari para pengunjung menurut daerah asal.
2.    Pendekatan Biaya Perjalanan Individu (An individual travel cost approach), menggunakan survei data dari para pengunjung secara individu.
Penelitian dengan menggunakan metode biaya perjalanan individu  (Individual Travel Cost Method) biasanya dilaksanakan melalui survey kuesioner pengunjung mengenai biaya perjalanan yang harus dikeluarkan ke lokasi wisata, kunjungan ke lokasi wisata yang lain (substitute sites), dan faktor-faktor sosial ekonomi (Suparmoko, 1997). Data tersebut kemudian digunakan untuk menurunkan kurva permintaan dimana surplus konsumen dihitung.
Metode ini telah banyak dipakai dalam perkiraan nilai suatu taman rekreasi dengan menggunakan berbagai variabel (Suparmoko, 2000). Pertama kali dikumpulkan data mengenai jumlah pengunjung taman, biaya perjalanan yang dikeluarkan, serta faktor-faktor lain seperti tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan mungkin juga agama dan kebudayaan serta kelompok etnik dan sebagainya. Data atau informasi tersebut diperoleh dengan cara mewawancarai para pengunjung taman rekreasi tersebut mengenai jarak tempuh mereka ke lokasi taman rekreasi tersebut, biaya perjalanan yang dikeluarkan, lamanya waktu yang digunakan, tujuan perjalanan, tingkat pendapatan rata-rata, dan factor sosial ekonomi lainnya.
Hutan dan ekosistemnya sebagai modal dasar pembangunan nasional dengan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan dan hasil kayu maupun non kayu memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia.Arief (2001) menjelaskan hasil-hasil hutan dibedakan berdasarkan sifat tangible dan intagible.Sifat-sifat intagible terdiri atas hasil yang berkaitan dengan sistem alami misalnya hidrologi dan wisata alam.Sedangkan sifat-sifat tangible berupa hasil hutan berupa kayu.Salim (1997) menggolongkan manfaat hutan ke dalam manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Manfaat langsung adalah manfaat yang dapat dirasakan secra langsung oleh masyarakat yaitu masyarakat dapat menggunakan dan memanfaatkan hasil hutan, antara lain kayu yang merupakan hasil utama hutan, serta berbagai hasil hutan ikutan seperti rotan, getah, buah-buahan, madu dan lain-lain.
Jasa rekreasi hutan sebagai produk tambahan dan sifatnya tidak nyata (intangible) dari hutan menghadapi tantangan ketika jenis produk ini tidak memiliki harga pada sistem pasar normal, padahal permintaan masyarakat akan jasa rekreasi hutan terus meningkat sebagai akibat dari pendapatan per kapita penduduk naik, meningkatnya mobilitas penduduk dan ketersediaan waktu luang bagi sebagian masyarakat (Supriadi, 1999).

III.      ANALISIS DAN SITENSIS
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda dengan spesifikasi jumlah kunjungan tempat Wisata dipengaruhi oleh biaya perjalanan pengunjung (transportasi, tiket, parkir, konsumsi, dokumentasi, d11), biaya perjalanan ke
objek wisata yang lain umur pengunjung, pendidikan, penghasilan per bulan, dan jarak, sehingga diformulasikan sebagai berikut:

JKwst, = f (Bpji , BpjW1i , Urni , Pdki , Phsi , Jrki )

Keterangan:
JKwst = Jumlah kunjungan Wisata Alam Rimbo Panti
Bpji       = Biaya perjalanan tempat wisata berupa biaya transportasi, biaya
    konsumsi, karcis masuk, biaya parkir dan biaya lain-lain
BpjWI =Biaya Perjalanan ke objek wisata lain
Umi    = Umur pengunjung
Pdki    = Pendidikan dari para pengunjung
Phsi       =   Penghasilan rata-rata sebulan dari para pengunjung
Jrki        = Jarak tempat tinggal pengunjung dengan Rimbo Panti
Selain itu variabel waktu luang per minggu, anggaran rekreasi selama sebulan, kelompok kunjungan, tujuan kunjungan, lama perjalanan, dan lama kunjungan merupakan variabel yang tidak dimasukkan dalam model.
Tabel I Definisi dan skala pengukuran variabel
Variabel
Definisi
Skala Pengukuran
Jumlah
Kunjungan
Banyaknya kunjungan yang dilakukan individu selama 12 bulan terakhir ke Wisata Alam Rimbo Panti
Dalam Frekuensi Kekerapan
Travel Cost
(biaya Perjalanan)
Biaya yang dikeluarkan pengunjung selama di Rimbo Panti (biaya Transportasi, tiket, parkir, konsumsi, dokumentasi, dB)
Variabel ini diukur dengan skala kontiniu (Dalam Satuan Rupiah)
Biaya Objek
Wisata Lain
Biaya yang dikeluarkan pengunjung untuk mengunjungi objek wisata lain yang telah ditentukan
Variabel ini diukur denga
skala kontinyu (dalam
satuan rupiah)
Umur
Umur pengunjung
Variabel ini diukur denga
skala kontinyu (dalam
satuan tahun)
Pendidikan
Jenjang pendidikan yang ditamatkanoleh pengunjung
Variabel ini diukur dengan
skala kontinyu (dalam satuan tahun)
Penghasilan
per bulan
Pengahasilan atau uang saku rata-rata perbulan yang diperoleh pengunjung
Variabel ini diukur dengan
skala kontinyu (dalam
satuan rupiah)
Jarak
Jarak Rumah Pengunjung dengan Wisata Alam Rimbo Panti
Variabel ini diukur dengan
skala kontinyu (dalam
satuan kilometer)
Waktu Luang
per minggu
Waktu libur dalam seminggu
Variabel ini diukur dengan
skala kontinyu (dalam
satuan hari)
Anggaran
Rekreasi
Anggaran yang dialokasikan untuk keperluan rekreasi dalam sebulan
Variabel ini diukur dengan
skala kontinyu (dalam
satuan Rupiah)
Kelompok
Kunjungan
Kunjungan pengunjung secant individu.
keluarga, rombongan atau bersama teman
Variabel ini diukur dengan
skala dummy (1=dgn
keluarga, 2=dgn teman da
rombongan, 0=sendiri)
Tujuan
Kunjungan
Tujuan berkunjung ke Wisata Alam Rimbo Panti, untuk rekreasi, olahraga,
dan lain-lain
Variabel ini diukur dengan
skala dummy (1=rekreasi dan olahraga, 0=lainnya)
Lama Perjalanan
Total waktu yang dibutuhkan pengunjung
menuju dan meninggalkan Wisata
Alam Rimbo Panti
Variabel ini diukur dengan
skala kontinyu (dalam
satuan menit)
Lama Kunjungan
Waktu yang dihabiskan pengunjung di
Wisata Alam Rimbo Panti
Variabel ini diukur dengan
skala kontinyu (dalam
satuan menit)


IV.      KESIMPULAN
Kesimpulan dari tulisan ini adalah
1.     Rimbo panti merupakan salah satu wisata alam yang ada di Sumatera Barat
2.    Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur nilai ekonomi yang diperoleh pengunjung Taman Wisata Alam Rimbo Panti, Kab.Pasaman Timur Sumatera Barat dengan menggunakan metode biaya perjalanan individu (Individual Travel Cost Method). Wisata Taman Wisata Alam Rimbo Panti dipilih karena potensi wisata yang dimilikinya tergolong tinggi dan sangat.
3.    Metode yang digunakan untuk valuasi ekonomi wisata alam Rimbo panti ini adalah pendekatan perjalanan (travel cost method).


V.        DAFTAR PUSTAKA

Afia Salma, Irma dan Indah Susilowati, 2004. Analisis Permintaan Objek Wisata Alam Curug Sewu, Kabupaten Kendal Dengan Pendekatan Travel Cost. Kedal.

Affandi, Oding dan Pindi Patana.2004. Perhitungan Nilai Ekonomi Pemanfaatannya Hasil Hutan Non – Marketable Oleh Masyarakat Desa Sekitar Hutan. Digitized by USU digital library. Sumatera Utara.

Effendi, Rachman dan Sylviani, 2005. Kajian Nilai Ekonomi Manfaat Lokal Hutan Lindung Di Jawa Barat (Landasan Teori). Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Dan Kebijakan Kehutanan. Bogor

Raharjo, Achmad. 2002. Menaksir Nilai Ekonomi Taman Hutan Wisata Tawangmangu Aplikasi Individual Travel Cost Method, Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol IX No 2,  Juli 2002 Halaman 79-88. PSLH Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Suparmoko, DRs.M.  2006. Panduan & Analisis Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam dan   Lingkungan (Konsep Metode Penghitungan & Aplikasi). BPFE, Yogyakarta.

Yusuf, Razali, Purwanengsih dan Gusman. 2005. Komposisi dan Struktur Vegetasi Hutan Alam Rimbo Panti, Sumatera Barat. Biodiversitas Volume 6, Nomor 4 Halaman: 266-271, FMIPA Universitas Andalas Padang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar